Malam yang
sunyi itu , Evan mengerjakan PR-nya di
ruang keluarga. Semua Keluarganya sudah tidur kecuali Evan, bibi dan kakaknya.
Kebetulan, hari itu adalah hari Kamis tepatnya malam Jumat .
Saat itu
Evan hampir Selesai dengan PR-nya saat jam 10.00. “Tok…Tok…” Evan Mendengar
bunyi yang seperti palu. “Siapa yang malam – malam begini masih ngetok palu ?
Evan “kebingungan . Tak berselang lama suara itu muncul lagi. Evan yang
penasaran langsung ke kamar ibu dan ayahnya. “Bu. Evan pinjem sapu sebentar”. Kata
Evan kepada ibunya. Namun ibu Evan curiga. “Untuk apa dia nyapu malem malem”.
Dengan muka curiga.
Angin
berhembus cepat kearahnya saat dia ingin berlari kearah jendela kamarnya. Evan
pun menoleh kearah kiri . “Tiba – Tiba” Whhaaaaaa……. Setan. “Teriak Evan
Ketakutan. 1 keluarga pu tekejut.
“Ada apa Van
, malem – malem kok teriak ? “Tanya ibunya”
“Ada setan
bu di sebelah rumah kita”. Jawab Evan sambil ketakutan. Ibu dan ayah melihat ke
rumah sebelah. Namun tidak ada apa – apa . ibu pun mengantarkan Evan ke kasur ,
lalu mematikakan lampu dan menghidupkan lampu tidur. “Tok…Tok…” suara tersebut
terdengar lagi. Evan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. Selimut Evan
tersebut tiba – tiba tertarik sendiri dan pintu kamarnya terbuka lebar.
“KAKAK..” Jerit Evan saat melihat ada sesosok gadis. “Van.. ada apa ? Tanya
kakaknya. Evan terbangun, ternyata semua hanya mimpi. Di sekelilingnya sudah
ada keluarganya. “Ada apa Van kok malem begini kamu menjerit ?” Tanya ibunya.
“Evan tadi melihat seorang gadis di depan pintu bu..” jawab Evan dengan wajah
takut. “udah itu hannyalah mimpi”. Ujar kakaknya .
Keesokkan
malamnya , saat Evan hendak pergi ke dapur untuk minum dia melihat gadis itu
lagi, namun gadis itu seperti mengajak Evan ke sesuatu tempat. Dengan modal
keberanian Evan pun mengikuti jejak gadis itu pergi. Namun tak di sangka gadis
itu mengajak Evan ke tempat rumah kosong yang berada di dekat rumahnya.
“Mengapa gadis mengajak saya ke rumah kosong ini” pikir Evan dengan wajah
ketakutan. Evan pun masuk ke dalam rumah tersebut dan melihat sekeliling rumah
tersebut. “Sepertinya rumah ini sudah ditingggal puluhan tahun lalu” hati Evan
penasaran. Lalu gadis itu berlari ke halaman belakang. ”hey tunggu mau kemana
kamu” Tanya dengan penasaran. Setelah Evan telah sampai di belakan halaman dia
mendengar suara gadis tersebut. “ Diaaaaa..” dengan nada marah. “Dia siapa?”
Mencari sambil Tanya keheranan. “Diaaaa .. Telahh… “jawab gadis. Evan pun terus
mancari gadis tersebut, tak disangka di melihat sepatu berwarna biru tertimbun
tanah. Tanpa berpikir panjang Evan langsung menggali tanah tersebut. Dengan
sangat kagetnya Evan melihat tubuh si gadis tersebut dengan leher hampir putus.
Evan pun lari keluar pintu menuju ke rumah dengan hati ketakutan. Evan terus
berpikir “Mengapa gadis itu mengincar saya”gurau Evan. Malam hari ini tak
seperti malam – malam sebelumnya. Dingin mulai menusuk tulanng, angin lebih kencang. “Braaakk….. “ seperti suara
piring pecah. Evan pun bangkit dari kasurnya menuju dapur. Kebetulan di dapur
udah ada kakannya. “Apa yang terjadi kak?” Tanya Evan. “Tidak ada apa – apa,
kamu berguarau yaa?” Jawab sambil ketawa.”enggak .. tadi evan mendengar ada
suara piring pecah di dapur”. Balas dengan nada heran. “emang ada apaan sih..
belakangan ini kamu sering bergurau?” Tanya kakaknya. “Sebenarnya……”. Evan
menceritkan semua kejadian yang menimpanya. Setelah mendengar cerita tersebut
kakaknya pun shock. “Dia adalah temen kakak saat masih kecil, namanya Eneria. Kami
selalu bercanda sesuka ria, melakukan hal – hal konyol. Namun, suatu malam
kakak mendengar ada suara minta tolong. Suara itu jelas berada di sebelah rumah
kita. Tak berselang lama suara itu tak terdengar lagi. Mungkin kakak pikir
kakak hanya bergurau. Esok paginya hendak ingin berangkat ke sekolah, semua
orang berkumpul di rumah Eneria. Kakak pun langsung berlari ke rumah Eneria dan
apa yang terjadi. Eneria bunuh diri dengan menggorok lehernya dengan pisau.
Kakak hanya bisa menangis karena dia adalah teman yang menghibur tetapi mengapa
dia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri”. Evan pun turut sedih mendengar
cerita tersebut. “Tetapi mengapa dia mengincar diriku” dalam hati evan yang
heran.
Keesokan
malamnya pasnya jam 22.48 WIB Evan membangunkan kakaknya.”Kak.. Kak.. bangun”
Tanya Evan. “ada apa sih bangunin malem begini” Jawab kakaknya dengan wajah
kantuk. “Kita coba untuk bertemu dengan Eneria apa yang telah terjadi olehnya”ujar
Evan. “Baik lah..” Balas dengan muka kantuk. Setalah kakaknya terbangun, Mereka
berdua langsung memasuki rumah kosong tersebut. Tetapi, anehnya pintu tersebut
tidak mau terbuka. “Kak.. pintunya tidak mau terbuka”Tanya Evan sambil
ngotak-ngatik pintu.”Coba kamu dobrak aja van”ujar kakaknya. Namun pintunya pun
tidak mau terbuka.”Coba lewat pintu belakang”ujar kakaknya. Akhirnya meraka
lewat pintu belakang, syukur ada pintu yang terbuka. Evan dan kakaknya pun
bergegas masuk. Setelah mereka masuk, Evan mendengar suara tangis Eneria, lantas bulukuduk Evan pun naik. Dengan
rasa takut Evan dan kakaknya pun menceria Eneria. “Eneria… Diamana Kamu..?”
Teriak kakaknnya.” Whoooossss….”Sesuatu ada yang lewat di belakangnya. “Evan
apa kamu merasakan ada yang lewat” Tanya kakaknya yang sangat ketakutan. Namun,
Evan tak menjawab. Saat kakaknya menoleh kebelakang dia tidak melihat Evan.
“Evan… Evan… Di mana kamu? ” teriak sambil mencari”. Lagi, Evan tak menjawab.
Kakaknya pun mencari Evan dengan rasa takut. Saat dia berjalan kearah kamar
Eneria kakaknya menemukan jam tangan di Evan. “Dooorrr..” kakaknya mendrobak
pintu kamar Eneria. Lalu kakaknya masuk melihat si Evan yang sedang
menangis.”Van.. kamu tidak apaa – apa , kenapa kamu mengangis?” Tanya kakaknya.
“Evan Takut kak”. Balas Evan sambil menangis. “Clingg...Clingg..” Evan
mendengar suara seperti pisau diasah. “Eneeeria ….” Kami ingin bertemu dengan
mu, apa yang telah terjadi padamu. Mengapa kau mengakhiri hidup mu dengan bunuh
diri dan mengapa ka uterus menghantui ku”Tanya Evan. “gubrakk… brakkk..”seperti
suara kayu di banting. Evan dan kakaknya pu berlari menuju pusat suara. Akhirnya
mereka menemukan Eneria. Nampak dari kejauhan mukanya pucat, matanya putih
polos, bagian leher berlumuran darah , mengenakan pakian tidur berwarna putih ,
sandal biru persis yang dilihat oleh Evan sebelumya. “Eneria i…tu kamu” Tanya
kakaknya gugup. Namun Eneria tidak menjawab. Evan pun mencoba mendekati Eneria,
namun dia menjauh. “apa yang telah terjadi sa..maa kamu En..eria” Tanya Evan.
Lagi, Eneria tidak menjawab. Evan pun melihat mata Eneria yang sedang keluar
air mata. Tiba – tiba Evan terbawa oleh alam sadarnya bersama Eneria. Lantas,
kakaknya pun kaget dan shock melihat si Evan pingsang. “Van, Van… Bangun Van”.
Membangunkan dengan wajah nangis. Di alam bawah sadarnya si Evan, dia bisa
melihat kematian Eneria. Evan pun tak menyangka dan menahan tangis karena dia
bukan bunuh diri tatapi ……? . Evan pun bangun dari alam sadarnya.”Syukur Van..
kamu bangun”memeluk erat erat si Evan. “Kak sekarang kita pulang ada yang mau
kita bicarakan”. Menarik kakaknya dengn buru buru. “Van .. kok buru – buru sih
Van.”Tanya kakaknya. “Nanti pasti kakak akan mengetahuinya” Jawab dengan logat
marah.
Jam 01.38,
ibu, ayah, dan bibinya mencari Evan dan kakaknya di sekeliling rumah. “Ibu …
ayah….” Panggil Evan. “Evan… dari mana aja kamu nak”tany ibunya dengan cemas.
“Evan dan kakak abis mengetahui kematian Eneria”jawab Evan. “Eneria..?”Tanya
ibunya bingung. “Ya… Eneria mati bukan karena bunuh diri tetapi di bunuh oleh
bibi ?” . “APA…?”ayah , ibu ,dan kakak Tanya histeris. “BI…. Coba jelaskan
kepada kita, kenapa bibi membunuh Eneria” ? Tanya Evan dengan marah. “Apa yang
kamu bicarakan, nak van” Tanya bibi pura pura tidak tahu. “pasti bibi, membunuh
Eneria karena bibi tak mau katuahan bahwa bibi telah mengambil Emas – Emas
milik orang tuanya Eneria, iya kan ?” Jawab dengan kesal. “iya itu benar.. “
jawab bibi dengan pasrah. Kenapa bibi lakukan ini semua hah … bibi telah
membunuh teman terbaik saya” kata kakaknya yang nangis dengan kesal. Bibi pun
meceritakan semua kejadian tersebut.
“Pada saat
itu, bibi hendak ingin ke dapur. Bibi sekilas emas yang di taruh oleh ibu
Eneria di dalam lemari. Saat itu bibi memiliki niat untuk mencuri emas tersebut
agar dapat menghidupi saya dan keluarga. Saat malam hari, bibi lakukan niat
jahat tersebut. Akhirnya bibi mendapatkan emas itu. Namun hendak pergi keluar,
Eneria melihat bibi saat hendak keluar dari kamar orang tuanya Eneria. Lantas
Eneria Bertanya ke pada bibi.”bibi ngapain dari kamar ibu dan ayah saya” Tanya
Eneria penasaran. Bibi sedikit bingung,lalu bibi menjawab. “bibi…… lagi
ngebersihin kamar orang tua enon” jawab dengan sedikit gugup. “Loh.. kok bibi
membawa emas ibu?” Tanya Eneria bingung. Bibi pun lantas meninggalkan Eneria.
Setelah sampai di kamar bibi mempunyai hasrat ingin membunuh Eneria karene taku
ketahuan oleh orang tuanya Eneria. Saat jam tengah malam itu juga malam jum’at bibi pun kedapur untuk
mengambil pisau. Setelah itu bibi bergegas menuju ke kamar Eneria. Dengan cepat
bibi menutup mulutnya Eneria dengan tangan dan menggorok leher Eneria. Setelah
itu bibi bawa Eneria ke belakang rumah. Pisau yang bekas menggorok Eneria bibi
letakkan di tangan Enria dan bibi taruh di lehernya agar orang curiga bahwa dia
bunuh diri bukan di bunuh. Tak selang beberapa hari bibi merasa bersalah dan
bibi ingin menceritakan kepada keluarganya. Namun orangtua Eneria meninggalkan
rumah tersebut.”
“Teganya kau
, sekarang bibi harus bertangung jawab. Besok pagi kita bawa bibi ke kantor
polisi” ujar ayahnya. “bibi telah membunuh anak yang tidak berdosa cuman karena
harta”.Emosi kakaknya
Keesokan
pagi, kami menunggu bibi di ruang tamu. Namun bibi tak kunjung turun. Evan pun
curiga.”pah, kayaknya bibi kabur nih”. Tanya kepada sang ayah. “coba kita liat
dia keatas”.ujar ayahnya. Setelah membuka pintu….. “Astaga … bibi ..” kaget 1
keluarga. Ternyata bibi sudah meninggal dengan leher hampir putus dan pisau msh
menempel di lehernya. Evan pun melihat ada surat di bawah badan bibi. Evan pun
membaca surat tersebut.”Evan, terima kasih kamu telah membantu ku mengunkap
kematian ku , ini adalah balasan bagi dari saya untuk bibi yang kejam dan
sampaikan salam saya untuk kakak kamu.” Akhirnya Eneria pergi dengan tenang.
By : Fuad Avilah







0 komentar:
Posting Komentar